Methosa Potret Keresahan di Balik Topeng Kebahagiaan Lewat Single Pulanglah

Methosa memberi kesempatan kepada pendengar untuk bertanya ke diri sendiri, ke mana dan apa sebenarnya yang menjadi tujuan dalam kehidupan.

Jadi intinya…
  • Methosa merilis “Pulanglah”, lagu kontemplatif tentang momen personal dan hening.
  • Lagu ini menyoroti keresahan sosial dan kelelahan batin akibat tuntutan hidup.
  • “Pulanglah” didedikasikan bagi yang berjuang menerima kekalahan dan bangkit kembali.

Grup musik Methosa kembali hadir dengan karya terbarunya, di tengah hiruk-pikuk Industri Musik yang kerap menawarkan ingar-bingar. Band ini mencoba memotret momen-momen paling personal dan hening yang sering kali  luput dari perhatian di tengah kesibukan, lewat lagu berjudul “Pulanglah”.

Berbeda dengan lagu-lagu motivasi kebanyakan, single ini justru mengambil pendekatan yang lebih dan mendalam. Tanpa bermaksud menggurui, Methosa menyediakan ruang kontemplasi bagi pendengar untuk bertanya ke diri sendiri, ke mana dan apa sebenarnya yang menjadi tujuan dalam kehidupan.

Methosa menyoroti fenomena sosial di mana masyarakat seolah dituntut untuk selalu tampil sempurna dan bahagia di permukaan. Namun ada sebuah keresahan kolektif yang dirasakan banyak orang, namun sering kali tertutup oleh topeng keberhasilan semu yang ditampilkan di media sosial maupun kehidupan nyata.

Di tengah narasi besar tentang kemajuan dan kebahagiaan, ada kegelisahan yang terus hidup diam-diam di masyarakat. Kita sering diberi gambaran bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa kita adalah bangsa yang bahagia,” kata Methosa lewat keterangan tertulisnya.

Kelelahan Batin

Permasalahan mental seperti kelelahan batin akibat tekanan hidup menjadi isu sentral yang coba diangkat oleh Methosa agar mendapatkan validasi yang layak. Mereka menegaskan bahwa sisi gelap dari perjuangan hidup adalah hal nyata yang tidak seharusnya disembunyikan.

Budaya kompetitif  dalam kehidupan membuat manusia terkondisikan untuk hanya mengapresiasi pencapaian dan kemenangan semata. Akibatnya, mentalitas masyarakat menjadi rapuh ketika dihadapkan pada kegagalan, karena tidak pernah diajarkan bagaimana cara menerima kekalahan dengan lapang dada.

Untuk yang Sedang Cari Jati Diri

“Kita sangat siap menyambut kemenangan tanpa menyisakan sedikit pun ruang untuk menerima kekalahan. Ketika kalah datang dalam karier, relasi, atau kehidupan, banyak orang merasa gagal, merasa tidak pantas, merasa dipecundangi, bahkan mempertanyakan nilai hidupnya sendiri,” katanya.

Methosa mendedikasikan karya ini bagi mereka yang sedang berjuang menemukan kembali jati dirinya setelah dihantam badai kehidupan. Lagu “Pulanglah” diharapkan dapat menjadi teman bagi mereka yang mau berproses, bagi siapa pun yang terpuruk dalam ‘perjalanannya’, bagi setiap jiwa yang berani mengakui kekalahan dan siap bangkit kembali.

Ubah Cara Pandang soal Kehidupan

Melalui lagu ini, Methosa mengajak seluruh penikmat musik Tanah Air untuk mengubah cara pandang dalam memaknai setiap fase kehidupan, baik suka maupun duka. Menerima kekalahan bukanlah aib, melainkan bukti otentik bahwa kita sedang menjalani proses kehidupan yang sesungguhnya.

“Kita pasti tahu bagaimana cara merayakan kemenangan, mari menjadi adil dengan berani merayakan dan menikmati kekalahan, dinamika ini adalah pertanda bahwa kita sedang hidup. Kembalilah ke rumah, pulanglah….” tutup Methosa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *